Showing posts with label Puisi Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Puisi Indonesia. Show all posts

Saturday, May 28, 2016

Friday, May 27, 2016

Wednesday, May 25, 2016

Puisi Percintaan Sajak Putih Karya Chairil Anwar

Judul Puisi: Sajak Putih
Tema: Percintaan
Karya: Chairil Anwar, 1944

SAJAK PUTIH

Buat tunanganku Mirat

Bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah…

Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…



Tuesday, May 24, 2016

Puisi Percintaan Yang Terampas dan Yang Putus Karya Chairil Anwar


Judul Puisi: Yang Terampas dan Yang Putus
Tema: Percintaan
Karya: Chairil Anwar, 1949


YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku


Monday, May 23, 2016

Sunday, May 22, 2016

Puisi Percintaan Mirat Muda, Chairil Muda Karya Chairil Anwar

Judul Puisi: Mirat Muda, Chairil Muda
Tema: Percintaan
Karya: Chairil Anwar, 1949

MIRAT MUDA, CHAIRIL MUDA

Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah mata yang menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.

Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
dan bertanya: Adakah, adakah
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti.
Dia rapatkan

Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati

-di pegunungan 1943,

Saturday, May 21, 2016

Puisi Kemerdekaan Prajurit Jaga Malam Karya Chairil Anwar

Judul Puisi: Prajurit Jaga Malam
Tema: Kemerdekaan
Karya: Chairil Anwar, 1948


PRAJURIT JAGA MALAM


Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !


Siasat,
Th III, No. 96
1949

Friday, May 20, 2016

Puisi Kemerdekaan Persetujuan dengan Bung Karno Karya Chairil Anwar

Judul Puisi: Persetujuan dengan Bung Karno
Tema: Kemerdekaan
Karya: Chairil Anwar, 1948

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO


Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh



Wednesday, May 18, 2016

Puisi Kemerdekaan Krawang-Bekasi Karya Chairil Anwar

Judul Puisi: Krawang-Bekasi
Tema: Kemerdekaan
Karya: Chairil Anwar, 1948

KRAWANG-BEKASI


Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi


Tuesday, May 17, 2016

Monday, May 16, 2016

Puisi Kemerdekaan Diponegoro Karya Chairil Anwar

Judul Puisi: Diponegoro
Tema: Kemerdekaan
Karya: Chairil Anwar, Februari 1943

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang





Sunday, May 15, 2016

Keluh Kesah Chairil Anwar yang dituangkan dalam Sebuah Puisi Berjudul Yang Terampas dan Yang Putus


Judul Puisi: Yang Terampas dan Yang Putus
Tema: Pandangan Hidup
Karya: Chairil Anwar, 1949

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS


Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

Saturday, May 14, 2016

Keluh Kesah Chairil Anwar yang Banyak Dosa dalam Sebuah Puisi Berjudul Selamat Tinggal

Judul Puisi: Selamat Tinggal
Tema: Pandangan Hidup
Karya: Chairil Anwar

SELAMAT TINGGAL


Aku berkaca

Ini muka penuh luka
Siapa punya ?

Kudengar seru menderu
dalam hatiku
Apa hanya angin lalu ?

Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta

Ah…….!!

Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal ………….!!
Selamat tinggal …………….!!

Dari: Deru Campur Debu

Friday, May 13, 2016

Pandangan Hidup Chairil Anwar Mengenai Rumah dalam Puisi Berjudul Rumahku

Judul Puisi: Rumahku
Tema: Pandangan Hidup
Karya: Chairil Anwar, April 1943

RUMAHKU


Rumahku dari unggun-unggun sajak
Kaca jernih dari segala nampak

Kulari dari gedung lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Dipagi terbang entah kemana

Rumahku dari unggun-unggun sajak
Disini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
jika menagih yang satu


Thursday, May 12, 2016

Pandangan Hidup Chairil Anwar yang Diibaratkan Cemara dalam Puisi Berjudul Derai Merai Cemara

Judul Puisi: Derai Merai Cemara
Tema: Pandangan Hidup
Karya: Chairil Anwar, 1949

DERAI DERAI CEMARA


Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah


Wednesday, May 11, 2016


Keluh Kesah Chairil Anwar yang Dituangkan dalam Puisi Berjudul Aku

Judul Puisi: Aku
Tema: Pandangan Hidup
Karya: Chairil Anwar, Maret 1943

AKU


Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


Tuesday, May 10, 2016

Pandangan Hidup Chairil Anwar yang Dituangkan pada Sebuah Puisi Berjudul Aku Berada Kembali

Judul Puisi: Aku Berada Kembali
Tema: Pandangan Hidup
Karya: Chairil Anwar, 1949


AKU BERADA KEMBALI


Aku berada kembali. Banyak yang asing:
air mengalir tukar warna,kapal kapal,
elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
juga disinari matari lain.

Hanya
Kelengangan tinggal tetap saja.
Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;
lebih lengang pula ketika berada antara
yang mengharap dan yang melepas.

Telinga kiri masih terpaling
ditarik gelisah yang sebentar-sebentar
seterang
guruh


Thursday, May 5, 2016


Puisi Keagamaan Teguran Tuhan Karya Vanes

Judul: Teguran Tuhan
Tema: Keagamaan
Karya: Vanes

Teguran Tuhan
Tuhan Tela Menegurmu
Melalui banjir bandang yang menerjang
Hamparan sawah terbenam
                  Tuhan telah menegurmu
                  Melalui lumpur panas yang mengerikan
                  Rumah-rumah terkuburkan
                  Manusia tunggang langgang
Tuhan telah menegurmu
Dengan gempa dan tsunami
Manusia berlari-lari untuk menyelamatkan diri
Apakah engkau mengerti arti semua ini?

Tuesday, May 3, 2016

Puisi Pendidikan "Sajak Sebatang Lisong" Karya Ws Rendra

Title: Sajak Sebatang Lisong
Tema: Pendidikan
Karya: WS Rendra


Sajak Sebatang Lisong


menghisap sebatang lisong 
melihat Indonesia Raya 
mendengar 130 juta rakyat 
dan di langit 
dua tiga cukong mengangkang 
berak di atas kepala mereka 

matahari terbit 
fajar tiba 
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak 
tanpa pendidikan 

aku bertanya 
tetapi pertanyaan - pertanyaanku 
membentur meja kekuasaan yang macet 
dan papantulis - papantulis para pendidik 
yang terlepas dari persoalan kehidupan 

delapan juta kanak - kanak 
menghadapi satu jalan panjang 
tanpa pilihan 
tanpa pepohonan 
tanpa dangau persinggahan 
tanpa ada bayangan ujungnya 
........................ 

menghisap udara 
yang disemprot deodorant 
aku melihat sarjana - sarjana menganggur 
berpeluh di jalan raya 
aku melihat wanita bunting 
antri uang pensiunan 

dan di langit 
para teknokrat berkata : 

bahwa bangsa kita adalah malas 
bahwa bangsa mesti dibangun 
mesti di up-grade 
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor 

gunung - gunung menjulang 
langit pesta warna di dalam senjakala 
dan aku melihat 
protes - protes yang terpendam 
terhimpit di bawah tilam 

aku bertanya 
tetapi pertanyaanku 
membentur jidat penyair - penyair salon 
yang bersajak tentang anggur dan rembulan 
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya 
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan 
termangu - mangu di kaki dewi kesenian 

bunga - bunga bangsa tahun depan 
berkunang - kunang pandang matanya 
di bawah iklan berlampu neon 
berjuta - juta harapan ibu dan bapak 
menjadi gemalau suara yang kacau 
menjadi karang di bawah muka samodra 
............................... 

kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing 
diktat - diktat hanya boleh memberi metode 
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan 
kita mesti keluar ke jalan raya 
keluar ke desa - desa 
mencatat sendiri semua gejala 
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku 
pamplet masa darurat 
apakah artinya kesenian 
bila terpisah dari derita lingkungan 
apakah artinya berpikir 
bila terpisah dari masalah kehidupan 

#Puisi populer #puisi Indonesia #kumpulan puisi-puisi lengkap #puisi karya WS Rendra

Monday, May 2, 2016

Puisi Pendidikan "Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia" Karya Ws Rendra

Title: Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia
Tema: Pendidikan
Karya: WS Rendra


Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia


Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja 
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan 
Amarah merajalela tanpa alamat 
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan 
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah 

O, zaman edan! 
O, malam kelam pikiran insan! 
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan 
Kitab undang-undang tergeletak di selokan 
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan 

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan! 
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja! 
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa 
Allah selalu mengingatkan 
bahwa hukum harus lebih tinggi 
dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara 

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan! 
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur! 
Berhentilah mencari Ratu Adil! 
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya! 
Apa yang harus kita tegakkan bersama 
adalah Hukum Adil 
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara 

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara 
menjadi saksi yang akan berkata: 
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat 
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan 
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa 
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya 

Wahai, penguasa dunia yang fana! 
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta! 
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati? 

Apakah masih akan menipu diri sendiri? 
Apabila saran akal sehat kamu remehkan 
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap 
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap 
telah kamu bukakan! 

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi 
Airmata mengalir dari sajakku ini. 

#Puisi populer #puisi Indonesia #kumpulan puisi-puisi lengkap #puisi karya WS Rendra